WhatsApp merupakan aplikasi untuk mengirim dan menerima pesan singkat dalam bentuk teks, video, mp3 dan lain-lianya, WhatsApp termasuk aplikasi yang sangat populer saat ini, hampir disemua pengguna HP canggih menggunakan aplikasi tersebut untuk berkomunikasi.
Mengembalikan Pesan WhatsApp
Pada artikel ini kami akan menjelaskan kepada Anda tentang cara mengembalikan pesan WhatsApp yang terhapus, Apakah bisa di kembalikan pesan di WhatsApp yang telah terhapus ??? tentulah mungkin, silahkan ikuti artikel ini sampai akhir agar Anda mengetahui cara tersebut.
Langkah-langkah mengembalikan pesan WhatsApp yang terhapus.
>> Cadangkan Data WhatsApp
Lakukan pencadangan otomatis pada WhatsApp Anda. Cadangan Lokal akan otomatis melakukan pencadangan jika sudah sampai jam 02:00 dini hari, semua database akan tersimpan di memori telepon. atau Anda juga mencadangkannya di layanan Google Drive.
>> Sekarang kita pelajari cara mencadangkan database ke Google Drive
> Buka Aplikasi WhatsApp
> Pilih Tommbol Menu > Setelan > Chatting dan Panggilan > Cadangan Chat.
> Silahakn klik pada cadangan ke Google Drive, Selanjutnya Anda pilih frekwensi cadangan yang Anda perlukan, atau bisa Anda klik di Cadangkan agar dapat melakukan pencadangan dengan segera.
> jika di minta sebuah akun Google, silahkan Anda masukkan Akun Google Anda.
> Klik pada Cadangkan lewat sebuah jaringan yang nantinya akan Anda gunakan untuk pencadangan.
>> Cara Memulihkan Pesan WhatsApp dari Google Drive.
Setelah Anda meng-install WhatsApp dan memverifikasi nomor telepon, WhatsApp akan menawarkan Anda untuk memulihkan riwayat chatting dan media dari cadangan yang pernah Anda buat. Pilih "Pulihkan" ketika diminta untuk melakukannya.
Jika WhatsApp tidak dapat mendeteksi adanya cadangan, kemungkinan karena Anda mungkin tidak terhubung ke akun Google yang sama. Bisa juga karena Anda tidak menggunakan nomor telepon yang sama dengan yang dipakai untuk membuat cadangan.
>> Cara Mengembalikan Pesan WhatsApp Lama di Memori Telepon
Jika Google Drive hanya akan menyimpan cadangan terbaru, WhatsApp menyimpan cadangan di memori telepon pada 7 hari terakhir. Caranya:
Buka aplikasi Manajer File.
Pergi ke sdcard/WhatsApp/Databases.
Jika data tidak disimpan di kartu SD, mungkin ada di penyimpanan internal
Namakan ulang file cadangan yang ingin dipulihkan dari msgstore-YYYY-MM-DD.1.db.crypt8 ke msgstore.db.crypt8.
Hapus aplikasi WhatsApp.
Pasang kembali aplikasi WhatsApp.
Pilih pulihkan ketika diminta.
Dengan ini semua pesan beserta media WhatsApp akan aman, meskipun kamu kehilangan telepon atau ganti perangkat.
#efek_kumat
Tampilkan postingan dengan label infoku untukmu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label infoku untukmu. Tampilkan semua postingan
Minggu, 13 November 2016
Jumat, 15 Mei 2015
Apakah Harus Menunggu Kematian untuk Berubah
Crita ini nyata.. dari tetangga yg terlambat sholehah
”Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus”
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senan g dengan teman-temanku.
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya .Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikanny a, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!.
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya , tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikanny a atas nama cinta.”
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
”Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus”
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.
Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya
Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.
Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senan
Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya
Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.
Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.
Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat
“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.
Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”
“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.
Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.
Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.
Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.
Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.
Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.
Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.
Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.
Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya
Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.
Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.
Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.
Istriku Liliana tersayang,
Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.
Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya
Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.
Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!.
Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.
Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya.
Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya
Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”
Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikanny
Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”
Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.
Senin, 02 Maret 2015
Fungsi Pasta Gigi yang Tak Anda Duga
1. Membersihkan CD atau DVD dari goresan
2. Menghilangkan bekas gelas di furnitur kayu
3. Menghilangkan noda di kain
4. Menghilangkan bekas spidol permanen dari bahan kayu
5. Menghilangkan permen karet dari rambut
6. Mengilapkan peralatan perak
7. Menghilangkan jerawat lebih cepat
8. Menghilangkan krayon dari dinding
Sabtu, 14 Februari 2015
Coklat Bangsat
GARA-gara cokelat, para gadis terpikat.
Akhirnya obral aurat, padahal cokelat banyak dijual di Alfamart.
Apa karena sudah terlampau miskin sangat.
Hingga hanya untuk sebatang cokelat,
rela diajak bermesum di sembarang tempat.
Dasar bejat!
# Pesan moral khusus untuk para "Gadis"
yang sudah Janda maupun yang tidak Gadis,
Lanjoooeett....
Akhirnya obral aurat, padahal cokelat banyak dijual di Alfamart.
Apa karena sudah terlampau miskin sangat.
Hingga hanya untuk sebatang cokelat,
rela diajak bermesum di sembarang tempat.
Dasar bejat!
# Pesan moral khusus untuk para "Gadis"
yang sudah Janda maupun yang tidak Gadis,
Lanjoooeett....
Jumat, 03 Januari 2014
Lirik - Tak Lagi Galau - Drizz Gautisha
Dulu kumemang kalau apa-apa diam
Hingga kutak bisa, serasa mati rasa
Kini tak lagi, kata Mama juga jangan
Bimbang ... itu menyakitkan
Kini ku tak lagi galau
Cukup kemarin kugalau
Bila hanya memang menyiksa-nyiksa batinku
Tak ingin lagi ku galau
Cukup kemarin kugalau
Kinilah saatnya kurasakan bahagia
Kini tak lagi, kata Mama juga jangan
Bimbang ... itu menyakitkan
Kini ku tak lagi galau
Cukup kemarin kugalau
Bila hanya memang menyiksa-nyiksa batinku
Tak ingin lagi ku galau
Cukup kemarin kugalau
Kinilah saatnya kurasakan bahagia
Kini ku tak lagi galau
Cukup kemarin kugalau
Bila hanya memang menyiksa-nyiksa batinku
Tak ingin lagi ku galau
Cukup kemarin kugalau
Kini saatnya kurasakan bahagia
***
Hingga kutak bisa, serasa mati rasa
Kini tak lagi, kata Mama juga jangan
Bimbang ... itu menyakitkan
Kini ku tak lagi galau
Cukup kemarin kugalau
Bila hanya memang menyiksa-nyiksa batinku
Tak ingin lagi ku galau
Cukup kemarin kugalau
Kinilah saatnya kurasakan bahagia
Kini tak lagi, kata Mama juga jangan
Bimbang ... itu menyakitkan
Kini ku tak lagi galau
Cukup kemarin kugalau
Bila hanya memang menyiksa-nyiksa batinku
Tak ingin lagi ku galau
Cukup kemarin kugalau
Kinilah saatnya kurasakan bahagia
Kini ku tak lagi galau
Cukup kemarin kugalau
Bila hanya memang menyiksa-nyiksa batinku
Tak ingin lagi ku galau
Cukup kemarin kugalau
Kini saatnya kurasakan bahagia
***
Rabu, 30 Oktober 2013
BENARKAH ITU ?
Syaidina
Ali bin Abi Thalib:
"..Akan datang suatu masa, Dan aku khawatir terhadap masa itu."
"..Akan datang suatu masa, Dan aku khawatir terhadap masa itu."
1. Di mana keyakinan hanya tinggal di dalam pemikiran.
2.
Di mana keimanan tak berbekas dalam perbuatan.
3.
Banyak orang baik tapi tak berakal.
4.Ada
pula yang berakal tapi tak beriman.
5.
Ada yang lidahnya fasih tapi hatinya lalai.
6.
Ada pula yang khusyu' tapi sibuk menyendiri.
7.
Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis.
8.
Ada pula ahli maksiat tapi rendah hati.
9.
Ada yang bahagia tertawa tapi hatinya berkarat.
10.
Ada pula yang sedih menangis tapi kufur nikmat.
11.
Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat.
12.
Ada pula yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.
15.
Ada yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan.
16.
Ada pula pelacur tapi menjadi figur.
17.
Ada yang memiliki ilmu tapi tidak paham.
18.
Ada pula yang paham tapi tidak menjalankan.
19.Ada
yang pintar tapi membodohi.
20.
Ada pula yang bodoh tapi tidak tahu diri.
21.
Ada yang beragama tapi tidak berakhlak.
22.
Ada pula yang berakhlak tapi tidak ber-TUHAN.
Jika kita
termasuk diantaranya,.marilah
kita sama-sama membenahi diri, semoga kita bisa menjadi
manusia yang lebih baik lagi,..
Sabtu, 06 Juli 2013
ISLAM "Mengatur Baiknya Berhubungan Intim Suami dengan Istri"
Berhubungan intim yang dilakukan oleh suami istri yang sah sangatlah
dianjurkan dalam agama islam karena merupakan kebutuhan rohani setiap manusia,
setiap manusia memiliki nafsu dan menginginkan hubungan yang romantis dengan
pasangan yang sah, aturan ajaran islam ketika di atas ranjang pun diajarkan
untuk menciptakan keharmonisan rumah tangga, jika ada anjuran pastinya juga ada
larangan yang harus dijauhi, pada posting artikel kali ini lebih memfokuskan
pada beberapa hal yang sunnah yang dianjuran dan pelurusan terhadap hal -
hal yang dianggap tidak boleh dilakukan oleh sebagian kalangan padahal asalnya
boleh dilakukan. artikel ini bertujuan agar semakin mengetahui aturan
berhubungan intim menurut ajaran Islam, hubungan intim suami istri semakin
mesra dan tidak sampai melanggar yang dilarang allah dan hanya berharap ridho
allah semata, berikut anjuran dan larangan bercinta dalam ajaran agama
islam,...
- Disunnahkan bercumbu
rayu
untuk pemanasan pada awal hubungan badan | Berhubungan intim yang dilakukan
oleh suami istri yang sah sangatlah dianjurkan dalam agama islam karena
merupakan kebutuhan rohani setiap manusia. disunnahkan bercumbu rayu untuk
pemanasan pada awal hubungan badan, setiap manusia memiliki nafsu dan
menginginkan hubungan yang romantis dengan pasangan yang sah, aturan ajaran
islam ketika di atas ranjang pun diajarkan untuk menciptakan keharmonisan rumah
tangga, jika ada anjuran pastinya juga ada larangan yang harus dijauhi, dan
hanya berharap ridho allah,...
Inilah
alasan nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk menikahi wanita
perawan karena kita pun bisa menikmati manisnya dan ketika Jabir menikah, nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya padanya,...
Apakah
engkau menikahi gadis perawan atau janda? aku menikahi janda, kata jabir.
kenapa engkau tidak menikahi gadis perawan saja karena engkau bisa bercumbu
dengannya dan juga sebaliknya ia bisa bercumbu mesra denganmu? ( hr. bukhari 2967 dan muslim 715 ),...
Ibnu
hajar mengatakan bahwa hal ini sebagai isyarat kalau gadis perawan sangat
menyenangkan jika dihisap lidahnya ketik bermain atau menciumnya ( fathul bari, 9:122 ),...
- Menyetubuhi istri pada kemaluannya
bisa
dari depan atau belakang | Berhubungan intim yang dilakukan oleh suami
istri yang sah sangatlah dianjurkan dalam agama islam karena merupakan
kebutuhan rohani setiap manusia.
Isterimu
adalah seperti tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat
bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki ( qs. al baqarah : 223 ), imam nawawi rahimahullah
berkata, yang namanya ladang tempat bercocok tanam pada wanita
adalah di kemaluannya yaitu tempat mani bersemai untuk mendapatkan
keturunan ( syarh muslim, 10 : 6 ), jabir bin abdillah
berkata bahwa orang yahudi berkata kepada kaum muslimin, barang siapa yang
menyetubuhi istrinya dari arah belakang, anaknya nanti bisa juling matanya, turunlah
firman allah ta’ala pada firman allah diatas,...
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,...Terserah mau dari arah depan atau belakang selama di
kemaluan. ( hr. ath thohawi 3:41 dalam syarh ma’anil atsar dengan
sanad yang shahih )
- Larangan Menyetubuhi Istri Pada Dubur
Hadits
yang mendasari larangan ini adalah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa
sallam,...
Benar
- benar terlaknat orang yang menyetubuhi istrinya di duburnya. ( hr. ahmad 2 : 479. syaikh syu’aib al arnauth
mengatakan bahwa hadits tersebut hasan ), sabda rasul shallallahu ‘alaihi wa
sallam,...
Barang
siapa yang menyetubuhi wanita haid atau menyetubuhi wanita di duburnya, maka ia
telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada muhammad shallallahu ‘alaihi wa
sallam, ( hr. tirmidzi no. 135, ibnu
majah no. 639. syaikh al albani mengatakan hadits ini shahih ).
Imam
nawawi rahimahullah mengatakan, ulama syafi’iyah berpendapat tidak
halal menyetubuhi di dubur sedikit pun baik pada manusia maupun hewan dalam
segala macam keadaan. ( syarh muslim, 10:6 ),...
- Larangan Menyetubuhi Istri Saat Haid
Imam
nawawi rahimahullah berkata kaum muslimin sepakat akan haramnya
menyetubuhi wanita haid berdasarkan ayat Al Qur’an dan hadits shahih, (
al majmu’ 2:359). Ibnu taimiyah rahimahullah berkata menyetubuhi wanita nifas (
haid ) haram berdasarkan kesepakatan ulama, ( majmu’ al fatawa, 21: 624
),...
imam asy syafi’i
rahimahullah berkata barang siapa yang menyetubuhi wanita haid, maka ia telah
terjerumus dalam dosa besar, hubungan seks yang dibolehkan dengan wanita haid
adalah bercumbu selama tidak melakukan jima’ ( senggama ) di kemaluan. dalam
hadits disebutkan,....
Lakukanlah segala sesuatu terhadap
wanita haid selain jima’ di kemaluan (
hr. muslim no. 302 )
dalam riwayat yang muttafaqun ‘alaih
disebutkan,...Aisyah berkata bahwa di antara istri nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam ada yang mengalami haid, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam ingin bercumbu dengannya lalu beliau memerintahkannya untuk memakai
sarung agar menutupi tempat memancarnya darah haid, kemudian beliau tetap
mencumbunya ( di atas sarung ). aisyah berkata adakah di
antara kalian yang bisa menahan hasratnya untuk berjima’ sebagaimana nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam menahannya. ( hr. bukhari no. 302 dan muslim
no. 293 ),...
- Berwudhu Untuk Mengulangi Hubungan Intim
dari
abu sa’id al khudri, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda...
Jika salah seorang
di antara kalian menyetubuhi istrinya, lalu ingin mengulanginya kembali, maka
berwudhulah (
hr. muslim no.308 ), perintah wudhu sunnah bukan wajib ( syarh shahih
muslim 3:217 ),...
- Suami Istri Tidak Berpakaian dan Saling Melihat
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata aku
pernah mandi bersama nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana dan
kami berdua dalam keadaan junub ( hr. bukhari no.263 dan muslim no.321
), al - hafizh ibnu hajar al asqalani rahimahullah berkata ad - dawudi berdalil
dengan hadits ini untuk menyatakan boleh seorang suami melihat aurat istrinya
dan sebaliknya, pendapat ini dikuatkan dengan kabar yang diriwayatkan ibnu
hibban dari jalan sulaiman bin musa bahwa dia ditanya tentang hukum seorang
suami melihat aurat istrinya, maka sulaiman pun berkata aku pernah bertanya
kepada atha tentang hal ini dia menjawab aku pernah menanyakan
permasalahan ini kepada aisyah maka aisyah membawakan hadits ini dengan
maknanya, ( fathul bari, 1:364 ). sebagai dalil pendukung dari ayat
Al Qur’an Allah ta’ala berfirman,...
Dan orang - orang
yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri mereka atau hamba sahaya yang
mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela (
Qs. Al Mu’minun : 5-6 ), ibnu hazm berkata ayat ini menjaga kemaluan hanya pada istri dan hamba
sahaya yang berarti meraka tersebut dibolehkan melihat, menyentuh dan bercampur
dengannya ( Al Muhalla 10:33
),...
- Tidak Menolak Diajak Berhubungan Intim
Seorang
istri tidak menolak ketika diajak berhubungan intim oleh suaminya,
dari
abu hurairah, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda...
Jika
seorang mengajak istrinya ke ranjang dan istri enggan memenuhinya, maka
malaikat akan melaknatnya hingga waktu shubuh ( Hr. Bukhari no.5193
& muslim no.1436 )
- Tidak Sengaja Memandang Wanita Lain
Sesungguhnya
wanita datang dalam rupa setan dan pergi dalam rupa setan, jika seorang di
antara kalian melihat seorang wanita yang menakjubkan tanpa sengaja, maka
hendaknya ia mendatangi dan bersetubuh dengan istrinya, karena akan menolak
syahwat yang terdapat pada dirinya (
Hr. Muslim no.1403 ), para ulama berkata bahwa rasul shallallahu ‘alaihi wa
sallam melakukan itu sebagai penjelasan bagi para sahabat mengenai apa yang
mesti mereka lakukan dalam keadaan demikian dengan beliau mencontohkan dengan
perbuatan dan perkataan sekaligus. hadits tersebut menunjukkan tidak
apa - apa mengajak istri untuk hubungan intim di siang hari atau waktu lain
yang menyibukkan selama pekerjaan yang ada mungkin ditinggalkan karena bisa
jadi pria sangat tinggi sekali syahwatnya ketika itu yang bisa membahayakan
badan, hati dan pandangannya jika ditunda untuk melakukannya ( syarh
shahih muslim 9:179 ),...
- Tidak Menyebarkan Rahasia Hubungan Ranjang
dari
abu sa’id al khudri, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda...
sesungguhnya
termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi allah swt pada hari kiamat
tiba adalah pria yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasia hubungan
ranjangnya kepada orang lain (
Hr. Muslim no. 1437 ), syaikh abu malik berkata namun jika ada maslahat syar’i
sebagaimana yang dilakukan istri nabi swt yang menyebarkan bagaimana rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam berinteraksi dengan istrinya, maka tidaklah
masalah ( shahih fiqh sunnah 3 : 189 ),...
- Janganlah Sembunyi Segera Kabarkan
rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadistnya seperti dibawah ini,...
Jika
salah seorang dari kalian datang pada malam hari maka janganlah ia mendatangi
istrinya, ( berikan kabar terlebih dahulu ) agar wanita yang ditinggal
suaminya mencukur bulu - bulu dari kemaluannya dan menyisir - nyisir rambutnya ( Hr. bukhari no.5246 dan muslim no.715 ) dan dari
jabir bin abdillah berkata,...Rasulullah SWT melarang seseorang untuk
mendatangi istrinya di malam hari untuk mencari tahu apakah istrinya berkhianat
kepadanya atau untuk mencari kesalahan istrinya ( Hr. Muslim
no.715),...
- Menyetubuhi Istri Yang Sedang Menyusui
dari
aisyah judaamah binti wahb saudara perempuan ukaasyah, ia berkata bahwasanya ia
mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda...
Sungguh
semula aku ingin melarang kalian dari perbuatan ghiilah, lalu aku melihat
bangsa romawi dan persia dimana mereka melakukan ghiilah terhadap anak - anak
mereka dan ternyata hal tersebut tidak membahayakan bagi anak - anak mereka ( Hr. Muslim no.1442 ), Ghiilah artinya adalah
menyutubuhi wanita yang sedang menyusui ( syarh shahih muslim 10: 16
) anjuran memperbolehan menyetubuhi wanita yang sedang menyusui dengan
ketentuan melihat maslahat dan mudhorot ( bahaya ) yang akan terjadi,..
- Hukum Onani Dan Masturbasi Dalam Islam
Melakukan oral
seks dengan onani dan masturbasi bagi pria dan wanita dalam ajaran agama islam
di haramkan karena merupakan dosa besar. onani atau masturbasi hukumnya adalah
haram karena merupakan istimta' ( meraih kenikmatan ) dengan cara yang tidak
Allah SWT anjurkan, Allah mengharamkan istimta' penyaluran kenikmatan seksual
kecuali pada suami istri atau budak, istimta' apapun yang dilakukan bukan
dengan suami istri atau budak maka tergolong kezaliman yang haram.
Nabi Muhammad SAW telah memberikan arahan kepada semua umatnya agar menikah
untuk menghilangkan keliaran dan pengaruh negative waktu datangnya syahwat,...
Umat
islam seharusnya selalu menutup hal buruk dan membuka hal
kebaikan karena akan mendatangkan keburukan dan fitnah, seperti hal
diatas termasuk perbuatan yang haram yang harus dijauhi dan kembali kepada
jalan yang benar untuk akhirat yang sempurna, Allah SWT berfirman
dan orang yang menjaga kemaluannya kecuali terhadap istri atau budak yang
mereka miliki maka sesungguhnya mereka dalam hal tiada tercela ( Qs. Al
Mu'minuun 5-6 ), Nabi Muhammad SAW bersabda barang siapa di
antara kalian telah mampu untuk menikah maka hendaklah segera untuk
menikah karena dengan menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih
menjaga kemaluan, sedangkan barang siapa yang belum mampu untuk menikah maka
hendaknya untuk berpuasa untuk melawan hasrat ( hadis riwayat bukhari dan
muslim dari ibnu mas'ud ),...
Melakukan Onani dan masturbasi merupakan
langkah upaya seseorang yang dilakukan untuk mengeluarkan mani dengan
menggunakan tangan atau yang lainnya dari kemaluan,
onani dan masturbasi yang dilakukan dengan tangan sendiri atau
lainnya oleh pria dan wanita hukumnya haram serta merupakan perbuatan hina yang
bertentangan dengan kemuliaan dan keutamaan, sedangkan
onani dan masturbasi yang dilakukan dengan bantuan tangan atau
lainnya oleh suami istri hukumnya halal, karena termasuk dalam
syariat hubungan intim ajaran agama islam yang sangat
dihalalkan oleh Allah SWT,...
Melakukan
perbuatan onani dan masturbasi termasuk mencari kenikmatan syahwat yang
sifatnya melanggar batasan syariat yang dihalalkan yaitu di luar kenikmatan
suami istri yang sah ( budak yang dimiliki ), sebagian dari ulama termasuk
asy-syaikh ibnu utsaimin berkata dengan hadits abdillah bin mas’ud yaitu wahai
sekalian pemuda barang siapa di antara kalian yang telah mampu menikah, maka
menikahlah karena pernikahan membuat pandangan dan kemaluan lebih terjaga,
barang siapa belum mampu menikah hendaklah dia berpuasa karena sesungguhnya
puasa merupakan obat yang akan meredakan syahwatnya ( muttafaq ‘alaih
), rosullulah tidak pernah menganjurkannya dan mengarahkan agar
menjauhi perbuatan onani dan masturbasi dengan :
- Melakukan
puasa untuk yang tidak mampu menikah bertujuan agar meredakan atau sebagai
senjata melawan nafsu syahwat yang datang menyerang tiba - tiba
- Melakukan
pernikah bagi yang sudah mampu, hal ini sangat dianjurkan sekali karena
sangat cocok dengan aturan cara bersetubuh dalam ajaran agama
islam yang halal
- Tidak ada
hal yang lain yang bisa dilakukan kecuali kembali pada anjuran no. 1 dan 2
http://www.youtube.com/watch?v=kok7QP7GX58 untuk melengkapi ngaji kita, maka dapat pula mendengarkan tausyiah Ustad Wijayanto... >klik ajah<
Langganan:
Postingan (Atom)



