Tampilkan postingan dengan label sekolah orangtua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah orangtua. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juni 2013

Waspadai Kesalahan -Ayah- Untuk "icaticiticut"

Kesalahan Disiplin yang Sering Dilakukan Orang Tua
Kesalahan 1:  Menakuti-nakuti Anak
Terkadang agar anak mau melakukan sesuatu yang diinginkan oleh orang tua, maka orang tua menakut-nakuti anaknya dengan cara yang tidak baik. Misalnya  ketika si kecil berlarian kesana kemari, orang tua menakut-nakutinya dengan “ihhh awas loh kesana nanti ada hantunya”. Cara ini akan membuat anak berpikir kemana pun dia berjalan akan ada sosok hantu yang menakutinya. 
Kesalahan 2: Memberikan Peringatan Kemudian Mengabaikannya
Orang tua memberikan peringatan tegas terhadap anaknya akan tetapi kemudian orang tua melupakan peringatan yang telah dibuatnya. Misalnya, saat sedang mengobrol dengan teman anda, si kecil merebut mainan temannya. Pada awalnya anda akan memberikan peringatan kepada si kecil, tetapi setelah itu anda kembali mengobrol dan melupakan peringatan yang telah anda berikan. Sehingga si kecil akan kembali merebut mainan temannya dan anda tidak memperhatikannya. Sebaiknya setelah anda memberikan peringatan, lakukanlah tindakan yang tegas terhadap si kecil. 
Kesalahan 3: Memberlakukan Peraturan Yang Berbeda Antara Ibu dan Ayah
Ibu dan Ayah mempunyai ketegasan serta peraturan yang masing-masing berbeda. Sebaiknya jangan tunjukkan hal ini di depan anak anda. Satukan pikiran terlebih dahulu mengenai mana peraturan yang boleh dilakukan dan tidak. 
Kesalahan 4: Jangan Mengiming-imingi Anak Dengan Hadiah Tertentu
Supaya anak dapat melakukan sesuatu yang diinginkan orang tua, terkadang orang tua mengiming-imingi anak dengan memberikan hadiah tertentu. Hal ini akan membuat anak selalu meminta hadiah sebelum maupun setelah dia melakukan sesuatu. Sebaiknya orang tua hanya memberikan pujian terhadap sesuatu yang telah dilakukan anak secara baik.
Kesalahan 5 : Melanggar Aturan Yang Pernah Anda Buat
Ingat-ingat aturan apa saja yang pernah anda buat untuk anak anda. Karena si kecil akan bingung apabila anda melakukan hal yang dilanggar. Misalnya, anda melarang si kecil untuk melempar mainannya. Akan tetapi suatu saat anda sedang bermain dengan hewan seperti anjing, dan anda melempar mainan agar anjing tersebut mengejar. Hal ini akan membuat si kecil menirukan hal yang anda lakukan dan tidak lagi mematuhi peraturan yang telah anda buat.
 Kesalahan 6: Hilang Kesabaran
Menjaga anak aktif memang membutuhkan kesabaran yang lebih. Ketika anda sudah merasa lelah menjaga anak anda saat bermain, ambil nafas dalam-dalam dan kontrol diri anda agar tetap berada pada “zona aman”. Agar anda tidak hilang kontrol dan melakukan hal yang tidak seharusnya seperti memukul ketika anak anda melakukan kesalahan, berteriak kepada anak anda, dsb. Padahal sebelumnya anda menetapkan aturan kepada anak anda bahwa ia tidak boleh memukul atau pun berteriak kepada orang lain. 
Kesalahan 7:  Menunggu Terlalu Lama
Ketika si kecil merasa bosan, ia akan melakukan tindakan yang dapat mengalihkan perhatiannya. Memang terkadang tindakan si kecil akan membuat orang tua merasa risih. Untuk menghentikan tindakan yang dilakukan oleh si kecil, jangan mengiming-iminginya dengan kegiatan yang biasa ia lakukan. Misalnya, ketika berada di kemacetan, si kecil memainkan safety belt secara terus menerus. Untuk menghentikannya, anda mengancam si kecil tidak akan mendengarkan dongeng ketika akan tidur nanti malam. Hal itu akan sia-sia karena anak-anak tidak ingat kesalahan yang telah dilakukannya  1 jam setelah terjadi apalagi selama berhari-hari. Sebaiknya anda lakukan tindakan tegas secara langsung, Misalnya ketika si kecil mengambil mainan dari temannya. Lakukan tindakan tegas yaitu ambil mainan tersebut dari anak anda tetapi jangan mengancam dengan membatalkan rencana pergi besok dengan si kecil. 
Kesalahan 8: Berbicara Terus Menerus
Jangan memberikan penjelasan yang terlalu panjang lebar kepada si kecil. Cukup berikan penegasan terhadap apa yang tidak boleh ia lakukan.

Misalnya anda ingin melarang si kecil untuk makan kue sebelum ia makan malam. Langsung berikan penegasan “tidak ada kue sebelum kamu makan malam”. Jangan berikan penjelasan panjang lebar mengenai efek apabila si kecil makan kue sebelum makan malam karena itu akan menghilangkan nafsu makannya, dsb. Selain itu gunakan juga kata-kata yang dapat dipahami oleh si kecil sesuai dengan umurnya. Misalnya, jangan gunakan kata ‘ merengek ‘ apabila si kecil belum mengerti.  

semoga disiplin ini.... dapat di mengerti... (icaticiticut
)

Rabu, 24 April 2013

"Jangan Memukul Istri Meski memukul itu Diperbolehkan"


Yang harus dipenuhi seorang suami kepada isterinya ialah tidak memukul wajah isterinya, meski terjadi perselisihan yang sangat dahsyat, misalnya karena si isteri telah berbuat durhaka kepada suaminya. Memukul wajah sang isteri adalah haram hukumnya
"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suami-nya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz(*) , hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.” [An-Nisaa' : 34]
nusyuz(*)  yaitu meninggalkan kewajibannya selaku isteri, seperti meninggalkan rumah tanpa seizin suaminya, dan lainnya.

Dalam ayat ini, Allah membolehkan seorang suami memukul isterinya. Akan tetapi ada hal yang perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh tentang bolehnya memukul adalah harus terpenuhinya kaidah-kaidah sebagai berikut, yaitu:
1. Setelah istri dinasihati, dipisahkan tempat tidurnya, namun tetap tidak mau kembali kepada syari’at
2. Tidak diperbolehkan memukul wajahnya.
3. Tidak boleh memukul dengan pukulan yang menimbulkan bekas atau membahayakan isterinya.

Pukulannya pun pukulan yang tidak melukai, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:
“Dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai.”

‘Umar bin al-Khaththab ra, mengadukan atas bertambah beraninya wanita-wanita yang nusyuz (durhaka kepada suaminya), sehingga Rasul memberikan rukhshah untuk memukul mereka.
Para wanita berkumpul dan mengeluh dengan hal ini,,,,,
kemudian Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Sesungguhnya mereka itu (yang suka memukul isterinya) bukan orang yang baik di antara kamu.”

Dari ‘Abdullah bin Jam’ah bahwasanya ia telah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“ Bagaimana mungkin seseorang di antara kalian sengaja mencambuk isterinya sebagaimana ia mencambuk budaknya, lalu ia menyetubuhinya di sore harinya?”

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan tentang laki-laki yang baik, yaitu yang baik kepada isteri-isterinya.

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya dan aku adalah yang paling baik kepada isteriku”

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya.”

Seorang suami telah memilih isterinya sebagai pendamping hidupnya, maka kewajiban dia untuk mendidik isterinya dengan baik. Setiap manusia tidak ada yang sempurna, sehingga adanya kekurangan dalam kehidupan berumah tangga merupakan sesuatu yang wajar saja terjadi dalam kehidupan sehari-hari. “ini pilihanku dan akan aku terima sebagai mana engkau memilihku”..(curhat)

Terkadang isteri memiliki kekurangan dalam satu sisi, dan suami pun memiliki kekurangan dari sisi yang lain. Tidak selayaknya melimpahkan tumpuan kesalahan tersebut seluruhnya kepada sang isteri atau sebaliknya istri menyalahkan suami.
Seorang suami, sebagai kepala rumah tangga berkewajiban untuk membimbing dan mendidiknya dengan sabar sehingga dapat menjadi isteri yang shalihah dan dapat melayani suaminya dengan penuh keridhaan.
Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk memanjatkan do’a kepada Allah atas kebaikan tabiat isterinya dengan memegang ubun-ubunnya seusai ‘aqad nikah sambil membaca:

“Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang dibawanya.”
Apabila isteri Anda salah, keliru atau melawan Anda, maka nasihatilah dengan cara yang baik, tidak boleh menjelek-jelekkannya, dan do’akanlah agar Allah memperbaikinya dan menjadikannya isteri yang shalihah.

Tidak Boleh Engkau Memisahkannya, Kecuali Di Dalam Rumah
Jika seorang suami dalam keadaan marah kepada isterinya atau terjadi ketidakharmonisan di antara keduanya, maka seorang suami tidak berhak untuk mengusir sang isteri dari rumahnya. Islam menganjurkan untuk meninggalkan mereka di dalam rumah, di tempat tidurnya dengan tujuan untuk mendidiknya. Sang suami harus tetap bergaul dengan baik terhadap isterinya

“Dan janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas.” [Ath-Thalaq : 1]

Juga firman-Nya.
"… Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak pada-nya.” [An-Nisaa' : 19]

Pernikahan adalah ikatan yang kokoh مِيْثَاقاً غَلِيْظً (miitsaqon gholiidhoo), tidak selayaknya hanya karena masalah yang kecil dan sepele kemudian tercerai-berai. Bahkan dalam masalah-masalah yang sangat besar pun, kita diperintahkan untuk bersabar menghadapinya, serta saling menasihati.

Akan menjadi sangat sulit bagi orang tua (suami dan isteri) untuk membimbing dan mendidik keturunannya agar menjadi anak yang shalih, manakala sang suami berpisah dengan isterinya. Sedangkan anak yang shalih merupakan salah satu aset yang sangat berharga, baik untuk kehidupan kedua orang tuanya di dunia terlebih di akhirat kelak.

Bahkan kata-kata yang mengandung perceraian (thalaq) harus dijauhkan dengan sejauh-jauhnya meskipun sang suami dalam keadaan marah yang sangat, baik diutarakan dengan sungguh-sungguh maupun sekedar berkelakar.
Rasulullah bersabda tentang kalimat thalaq ini:
"Tiga hal yang apabila diucapkan akan sungguh-sungguh terjadi, main-mainnya (pun) terjadi, yaitu nikah, thalaq, dan rujuk.”

Seseorang ketika dalam keadaan marah, cenderung untuk mengeluarkan kata-kata yang kotor, perkataan yang jelek, dusta, mencaci maki, mengungkit-ungkit kejelekan lawan bicara, menyanjung-nyanjung dirinya dan mengeluarkan kalimat yang mengandung kekufuran atau yang lainnya. Untuk itulah, ketika kita dalam keadaan marah, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk mengucapkan perkataan yang baik, atau kalau tidak mampu maka dianjurkan untuk diam,
beliau bersabda:
"Apabila seseorang dari kalian marah, hendaklah ia diam.”


                                                                                  maafkan ayah bila ayah salah...>istri&anak-anakku<

Senin, 15 April 2013

Yang Terlupakan Oleh Kedua Orang Tua


Ternyata Mencium Anak 
Mendatangkan Rahmat Allah
Sering kita dapati seseorang yang mendidik anaknya dengan cara yang keras…dengan menggunakan pukulan..bahkan tendangan…
Bahkan jika tangannya telah lelah memukul maka iapun menggunakan tongkat atau cambuk untuk memukul anaknya. Sementara jika bertemu dengan sahabat-sahabatnya jadilah ia orang yang paling lembut dan ramah.
Memang benar bahwa boleh bagi seorang ayah atau ibu untuk mendidik anaknya dengan memukul, akan tetapi hal itu keluar dari hukum asal. Karena hukum asal dalam mendidik…bahkan dalam segala hal adalah dengan kelembutan. Kita –sebagai orang tua- tidak boleh berpindah kepada metode pemukulan kecuali jika kondisinya mendesak. Itupun tidak boleh dengan pemukulan yang semena-mena, semau kita, seperti pukulan yang menimbulkan bekas…terlebih lagi yang mematahkan tulang…Sering syaitan menghiasi para orang tua dengan  menjadikan mereka menyangka bahwa metode kekerasan dalam mendidik anak-anak adalah metode yang terbaik dan praktis serta metode yang singkat dan segera mendatangkan keberhasilan. Karena dengan kekerasan dalam sekejap sang anak menjadi penurut. ‘
Ingatlah ini semua hanyalah was-was syaitan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :
“Tidaklah kelembutan pada sesuatupun kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatupun kecuali akan memperburuknya” (Dishahihkan oleh Al-Albani)
Memang benar…jika seorang anak disikapi keras maka ia akan nurut dan patuh…akan tetapi hanya sekejap dan sementara…
Kenyataan yang ada menunjukan bahwa jika seorang ayah atau ibu yang senantiasa memukuli dan mengerasi anak-anak mereka akan menimbulkan dampak buruk:
-         Jadilah kedua orang tua tersebut berhati keras…, hilang kelembutan dari mereka, karena mereka telah membiasakan kekerasan dalam hati mereka
-         Bahkan anak-anak mereka yang sering mereka pukuli pun menjadi keras…, keras dan kasar sikap mereka dan juga keras hati mereka.
-         Bahkan tidak jarang sang anak yang dikerasi maka semakin menjadi-jadi keburukannya.  Terutama jika sang anak merasa aman dari control kedua orang tuannya. Hal ini menunjukan sikak keras terhadap seringnya tidak membuahkan keberhasilan dalam mendidik anak-anak
-         Kalaupun metode kekerasan berhasil merubah sang anak menjadi seorang anak yang “tidak nakal” maka bagaimanapun akan berbeda hasilnya dengan seorang anak yang dibina dengan kelembutan. Seorang anak yang “tidak nakal” yang merupakan buah metode kekerasan tidak akan memiliki kelembutan dalam sikap dan tutur kata serta kelembutan hati yang dimiliki oleh seorang anak yang dididik dengan penuh kelembutan !!.
Adapun jika kedua orang tua bersikap lembut kepada anak-anak mereka, dan tidak memukul kecuali dalam kondisi terdesak, sehingga tidak keseringan…maka akan menimbulkan banyak dampak positif, diantaranya :
-         Kedua orang tua tetap bisa menjaga kelembutan hati keduanya
-         Kelembutan hati anak-anak mereka juga bisa terjaga, demikian pula akhlak anak-anak mereka menjadi akhlak yang mulia. Karena mereka telah meneladani kedua orang tua mereka yang selalu bersikap lembut dan sayang kepada mereka
-         Anak-anak tatkala telah dewasa maka yang mereka selalu kenang adalah kebaikan, kelembutan, ciuman kedua orang tua mereka yang telah bersabar dalam mendidik mereka. Jadilah mereka anak-anak yang berbakti yang selalu ingin membalas budi kebaikan kedua orang tua mereka.
-         Kedua orang tua akan mendapatkan rahmat Allah dan ganjaran dari Allah karena sikap lembut mereka kepada anak-anak mereka
Abu Hurairah –semoga Allah meridhoinya- berkata :
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Al-Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallampun melihat kepada Al-’Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati” (HR Al-Bukhari no 5997 dan Muslim no 2318)
Dalam kisah yang sama dari ‘Aisyah –semoga Allah meridhoinya- ia berkata :
“Datang seorang arab badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki?, kami tidak mencium mereka”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa rahmat/sayang dari hatimu” (HR Al-Bukhari no 5998 dan Muslim no 2317)
Ibnu Batthool rahimahullah berkata, “Menyayangi anak kecil, memeluknya, menciumnya, dan lembut kepadanya termasuk dari amalan-amalan yang diridhoi oleh Allah dan akan diberi ganjaran oleh Allah. Tidakkah engkau perhatikan Al-Aqro’ bin Haabis menyebutkan kepada Nabi bahwa ia memiliki 10 orang anak laki-laki tidak seorangpun yang pernah ia  cium, maka Nabipun berkata kepada Al-Aqro’ ((Barang siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayang)).
Maka hal ini menunjukan bahwa mencium anak kecil, menggendongnya, ramah kepadanya merupakan perkara yang mendatangkan rahmat Allah. Tidak engkau perhatikan bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggendong (*cucu beliau) Umaamah putrinya Abul ‘Aash (*suami Zainab putri Nabi) di atas leher beliau tatkala beliau sedang sholat?, padahal sholat adalah amalan yang paling mulia di sisi Allah dan Allah telah memerintahkan kita untuk senantiasa khusyuk dan konsentrasi dalam sholat. Kondisi Nabi yang menggendong Umaamah tidaklah bertentangan dengan kehusyu’an yang diperintahkan dalam sholat. Nabi kawatir akan memberatkan Umaamah (*si kecil cucu beliau) kalau beliau membiarkannya dan tidak digendong dalam sholat.
Pada sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini merupakan teladan yang paling besar bagi kita, maka hendaknya kita meneladani beliau dalam menyayangi anak-anak baik masih kecil maupun yang besar, serta berlemah lembut kepada mereka” (Syarh Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Batthool, 9/211-212)
Syaikh Ibnu Al-’Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
(Barangsiapa yang tidak merahamati maka tidak dirahmati), yaitu barangsiapa yang tidak merahmati manusia maka ia tidak akan dirahmati oleh Allah Azza wa Jalla –kita berlindung kepada Allah akan hal ini-, serta Allah tidak memberi taufiq kepadanya untuk merahmati. Hadits ini menunjukan bahwa bolehnya mencium anak-anak kecil karena rahmat dan sayang kepada mereka, apakah mereka anak-anakmu ataukah cucu-cucumu dari putra dan putrimu atau anak-anak orang lain. Karena hal ini akan mendatangakna rahmat Allah dan menjadikan engkau memiliki hati yang menyayangi anak-anak. Semakin seseorang rahmat/sayang kepada hamba-hamba Allah maka ia semakin dekat dengan rahmat Allah. Bahkan Allah mengampuni seorang wanita pezina tatkala wanita pezina tersebut merahmati seekor anjing yang menjilat-jilat tanah karena kehausan…
Jika Allah menjadikan rasa rahmat/kasih sayang dalam hati seseorang maka itu merupakan pertanda bahwa ia akan dirahmati oleh Allah…”
“Maka hendaknya seseorang menjadikan hatinya lembut, ramah, dan sayang (kepada anak-anak), berbeda dengan kondisi sebagian orang bodoh. Bahkan tatkala anaknya yang masih kecil menemuinya sementara ia sedang di warung kopi maka iapun membentak dan mengusir anaknya. Ini merupakan kesalahan. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik dan mulia akhlak dan adabnya. Suatu hari beliau sedang sujud –tatkala beliau mengimami para sahabat- maka datanglah Al-Hasan bin Ali bin Abi Thoolib, lalu –sebagaiman sikap anak-anak-, Al-Hasanpun menaiki pundak Nabi yang dalam kondisi sujud. Nabipun melamakan/memanjangkan sujudnya. Hal ini menjadikan para sahabat heran (*mereka berkata :
“Wahai Rasulullah, engkau telah memperpanjang sujudmu, kami mengira telah terjadi sesuatu atau telah diturunkan wahyu kepadamu”-pen),
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada mereka,
“Bukan…, akan tetapi cucuku ini menjadikan aku seperti tunggangannya, maka aku tidak suka menyegerakan dia hingga ia menunaikan kemauannya” (*HR Ahmad no 16033 dengan sanad yang shahih-pen dan An-Nasaai no 1141 dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Yaitu aku tidak ingin segera bangkit dari sujudku hingga ia menyelesaikan keinginannya. Ini buah dari rasa kasih sayang.
Pada suatu hari yang lain Umamah binti Zainab putri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih kecil dibawa oleh Nabi ke masjid. Lalu Nabi sholat mengimami para sahabat dalam kondisi menggendong putri mungil ini. Jika beliau sujud maka beliau meletakkannya di atas tanah, jika beliau berdiri maka beliau menggendongnya. Semua ini beliau lakukan karena sayang kepada sang cucu mungil. Padahal bisa saja Nabi memerintahkan Aisyah atau istri-istrinya yang lain untuk memegang cucu mungil ini, akan tetapi karena rasa kasih sayang beliau. Bisa jadi sang cucu hatinya terikat senang dengan kakeknya shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabi ingin menenangkan hati sang cucu mungil.
Pada suatu hari Nabi sedang berkhutbah, lalu Al-Hasan dan Al-Husain (*yang masih kecil) datang memakai dua baju –mungkin baju baru-. Baju keduanya tersebut kepanjangan, sehingga keduanya tersandung-sandung jatuh bangun tatkala berjalan. Maka Nabipun turun dari mimbar lalu menggendong keduanya dihadapan beliau (*di atas mimbar) lalu beliau berkata:
“Maha benar Allah…”Hanyalah harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah”, aku melihat kedua anak kecil ini berjalan dan terjatuh, maka aku tidak sabar hingga akupun memutuskan khutbahku dan aku menggendong keduanya” (HR At-Thirmidzi no 2969 dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Kemudian beliau melanjutkan khutbah beliau (*lihat HR Abu Dawud no 1016 dan dishahihkan oleh Al-Albani)
Yang penting  hendaknya kita membiasakan diri kita untuk menyayangi anak-anak, demikian juga menyayangi semua orang yang butuh kasih sayang, seperti anak-anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang lemah (tidak mampu) dan selain mereka. Dan hendaknya kita menjadikan dalam hati kita rasa rahmat (kasih sayang) agar hal itu menjadi sebab datangnya rahmat Allah bagi kita, karena kita juga butuh kepada rahmat” (dari Syarah Riyaad As-Shoolihiin, dengan sedikit perubahan)
Sungguh mulia akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak-anak…beliau menggendong anak-anak…bahkan dalam sholat beliau, karena kasih sayang kepada anak-anak …mencium anak-anak adalah ibadah…mendatangkan rahmat Allah. Bahkan beliau pernah berjalan cukup jauh hanya untuk mencium putra beliau Ibrahim. Anas Bin Malik –semoga Allah meridhoinya- berkata :
“Aku tidak pernah melihat seorangpun yang lebih sayang kepada anak-anak dari pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Putra Nabi (yang bernama) Ibrahim memiliki ibu susuan di daerah Awaali di kota Madinah. Maka Nabipun berangkat (*ke rumah ibu susuan tersebut) dan kami bersama beliau. lalu beliau masuk ke dalam rumah yang ternyata dalam keadaan penuh asap. Suami Ibu susuan Ibrahim adalah seorang pandai besi. Nabipun mengambil Ibrahim lalu menciumnya, lalu beliau kembali” (HR Muslim no 2316)
Karenanya…bersabarlah wahai para orang tua dalam mendidik anak kalian…sayangilah mereka…peluklah mereka…ciumlah mereka….semuanya akan mendatangkan pahala dan rahmat A

Jumat, 28 September 2012

Belajar Dari Sebuah Pensil

Seorang anak bertanya kepada ayahnya yang sedang menulis sebuah surat. “ayah lagi menulis apa?”
Mendengar pertanyaan si anak, sang ayah berhenti menulis dan berkata..., “Sebenarnya ayah sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu PENSIL yang ayah pakai. ayah harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti”, ujar si ayah lagi.
Mendengar jawaban ini, si anak kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si ayah ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang ayah pakai. “Tapi yahh, sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya”, Ujar si anak
Si ayah kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini”, Si ayah kemudian menjelaskan 5 kualitas dari sebuah pensil.

Pertama : Pensil mengingatkan kamu, kalau kamu bisa berbuat hal yang hebat dalam hidup ini. Layaknya sebuah pensil ketika menulis, kamu jangan pernah lupa kalau ada tangan yang selalu membimbing langkah kamu dalam hidup ini. Kita menyebutnya Allah, Dia akan selalu membimbing kita menurut kehendakNya”.

Kedua : Dalam proses menulis, ayah kadang beberapa kali harus berhenti dan menggunakan rautan untuk menajamkan kembali pensil ayah. Rautan ini pasti akan membuat si pensil menderita. Tapi setelah proses meraut selesai, si pensil akan mendapatkan ketajamannya kembali. Begitu juga dengan kamu, dalam hidup ini kamu harus berani menerima penderitaan dan kesusahan, karena merekalah yang akan membuatmu menjadi orang yang lebih baik”.

Ketiga : Pensil selalu memberikan kita kesempatan untuk mempergunakan penghapus, untuk memperbaiki kata-kata yang salah. Oleh karena itu memperbaiki kesalahan kita dalam hidup ini, bukanlah hal yang jelek. Itu bisa membantu kita untuk tetap berada pada jalan yang benar”.

Keempat : Bagian yang paling penting dari sebuah pensil bukanlah bagian luarnya, melainkan arang yang ada di dalam sebuah pensil. Oleh sebab itu, selalulah hati-hati dan menyadari hal-hal di dalam dirimu”.

Kelima : Sebuah pensil selalu meninggalkan tanda/goresan…Seperti juga kamu, kamu harus sadar kalau apapun yang kamu perbuat dalam hidup ini akan tinggalkan kesan. Oleh karena itu selalulah hati-hati dan sadar terhadap segala tindakanmu.

buat para anak-anak ku...

Selasa, 26 Juni 2012

Teruntuk Para Anak-anakku

Seorang anak berkata pd Ayahnya:
"Ayah.. ibu selalu terlihat cantik.Aku ingin spt ibu, beritahulah aku caranya" Dgn tatapan lembut & senyum haru, sang Ayah menjawab:

"Utk Bibir yg menarik, ucapkanlah perkataan yg baik"

"Utk pipi yg lesung,tebarkanlah senyum ikhlas kpd siapapun"

"Utk mata yg indah menawan, lihatlah selalu kebaikan org lain"

"Utk tubuh yg langsing, sisihkanlah makanan utk fakir miskin"

"Utk jemari tangan yg lentik menawan, hitunglah kebajikan yg tlh diperbuat org2 lain kepadamu dan bersyukur"

"Utk wajah putih bercahaya, bersihkanlah kekotoran batin"

Anakku...
Jgnlah sombong akan kecantikan fisik karena itu akan pudar oleh waktu.

Kecantikan perilaku tdk akan pudar walau oleh kematian.

~Jika Anda BENAR, maka Anda tdk perlu marah.
~Jika Anda SALAH, maka Anda wajib minta maaf.

~Kesabaran dgn keluarga adlh KASIH.
~Kesabaran dgn org lain adlh HORMAT.
~Kesabaran dgn diri sendiri adlh KEYAKINAN.
~Kesabaran dgn TUHAN adlh IMAN.

~Jgn terlalu mengingat masa lalu, krn hal itu akan membawa AIR MATA.
~Jgn terlalu memikirkan masa depan, krn hal itu akan membawa KETAKUTAN.
~Jalankan saat ini dengan senyuman, krn hal itu akan membawa KECERIAAN!

~Setiap ujian dlm hidup ini bisa membuat Anda pedih atau lebih baik.
~Setiap masalah yg timbul bisa menguatkan atau menghancurkan.
~Pilihan ada pada Anda, apakah Anda akan memilih menjadi korban atau pemenang.

~Carilah hati yg indah bukan wajah yg cantik.
~Hal-hal yg indah tdk selalu baik, tapi hal-hal yg baik akan selalu indah...

Besi menajamkan besi, demikian juga manusia saling mengasah satu sama lain demi kebaikan masa depan yang lebih baik lagi.

Selamat berjuang dan menanam bibit-bibit kebajikan...

Ingat! Anakku...
Kesempatan tdk selalu membuat hidup kita lebih baik, tàpi perubahan diri kita lah yg mengubah segalanya.



To: para anak-anak ku

Selasa, 13 Maret 2012

ORANGTUA BATU atau ORANGTUA AIR

Pernahkah anda melihat batu? 
Bagaimanakah bentuknya? 
Bagaimanakah permukaannya? 
Bagaimanakah kekerasannya?
 Bagaimanakah ketahanannya terhadap erosi? 
Yaa,,, batu mempunyai banyak bentuk. Dan rata-rata permukaannya keras kecuali batu apung. Tetapi sekeras-kerasnya jika batu tersebut terjatuh dan terbentur benda keras lainnya maka batu itu akan terkikis dan jika sering terjatuh atau terbentur maka ia akan mengecil juga.

Demikian juga jika batu tersebut ditetesi air terus menerus maka lambat laun batu tersebut akan lubang juga. Walaupun permukaannya sangat keras namun batu tidak memiliki kelenturan dan sangat mudah tergores ataupun terkikis jika terbentur benda keras lainnya.

Batu juga sulit memindahkan dirinya sendiri kecuali ada energi sangat besar mendorongnya. Batu akan berpindah jika disapu angin ribut ataupun air bah. Perpindahannya akan menimbulkan kesakitan karena batu tersebut akan tercabut dari tempatnya semula dan jatuh terbanting ke tempatnya yang baru. Ia akan terbentur-bentur dan terkikis melewati proses perpindahannya.

Bagaimana dengan air? Air sangatlah luwes dan lembut. Ia bisa menyesuaikan diri dengan berbagai situasi. Tetapi di balik kelembutannya ia menyimpan tenaga yang sangat besar. Ia bisa mengikis batu yang sangat keras dengan penuh kesabaran. Ia bisa memindahkan batu sebesar apapun. Ia juga bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan sangat mudahnya. Ia bisa menyerap panas ataupun dingin dengan sangat cepat. Ia mengalir kemanapun dengan tanpa beban dengan sangat mudahnya.

Sebagai orangtua yang mendidik anak dan diri sendiri, sifat manakah yang kita miliki? Apakah kita memiliki sifat-sifat batu yang sangat keras dan sulit berubah menyikapi kondisi sekitar? Ataukah kita memiliki sifat-sifat air yang lemah lembut dan luwes namun mempunyai kekuatan yang sangat besar jika diperlukan?

Orangtua yang memiliki sifat-sifat seperti batu, kita sebut orangtua batu sangatlah keras dalam mendidik dan menyikapi berbagai perilaku anaknya. Mereka berpikir dan melihat tingkah laku anak dari kacamatanya sendiri. Akibatnya mereka mengalami kesulitan dan tidak bisa menerima perbuatan anak-anaknya.

Orangtua batu menjalani hidup dengan penuh ketegangan sehingga memiliki tingkat stress yang tinggi. Mereka seringkali menyalahkan tindakan anaknya. Mereka selalu meminta anaknya bersikap seperti apa yang diinginkannya. Mereka selalu menuntut anaknya untuk berbuat sesuatu. Jika tidak mereka akan marah dan menganggap anak-anaknya selalu tidak becus dan tidak menurutinya.

Orangtua batu sering menyulitkan dirinya sendiri dan anaknya. Jika ia diminta harus mengubah pendekatannya maka ia akan menderita dan mengalami kesakitan. Perubahan adalah sesuatu yang membuat orangtua batu mengerang dan menjerit. Secara mental ia sendiri akan mengalami kesakitan luar biasa. Baginya perubahan adalah ketidaknyamanan.

Akibat dari sikapnya yang keras seperti batu ini maka tingkat stressnya sangat tinggi. Dan ini menyulitkan dirinya sendiri dan anak-anaknya. Ketika anaknya berubah ke arah yang lebih baik ia sendiri gagal mengubah dirinya untuk merespon perubahan anaknya. Dan akhirnya anaknya yang tidak melihat perubahan dari respon orangtuanya merasa frustrasi. Ujung-ujungnya si anak kembali ke sikap semula dan bahkan tidak bisa respek pada orangtuanya. Dan ini memicu perselisihan baru yang tidak akan ada penyelesaiannya. Orangtua mengatakan anak tidak mau berubah tetapi si anak, yang telah berubah namun tidak mendapat respon, mengatakan orangtua yang tidak mau berubah.

Orangtua batu menjalani kehidupan rumah tangga dengan penuh kemarahan dan tuntutan. Mereka tidak tahu kapan harus menggunakan kekuatannya. Jika ia dipaksa berubah maka ia akan merasa hancur lebur. Orangtua batu memiliki ego yang sangat besar tetapi negatif. Ego inilah yang akan menghancurkan dirinya sendiri dan akhirnya anaknya.

Bagaimana dengan orangtua air? Orangtua air memiliki keluwesan yang luar biasa tetapi bukan berarti mudah dipermainkan. Orangtua air tahu kapan harus menggunakan kekuatannya untuk mendisiplinkan anaknya. Mereka juga tahu kapan harus mengubah diri menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi dalam diri anaknya. Mereka cepat sekali merespon tindakan anak dan menghargainya. Memuji dengan tulus perbuatan baik anak dan meminta maaf ketika dirinya berbuat salah pada anak adalah hal yang mudah dan tidak akan menghacurkan ego orangtua air.

Orangtua air adalah orangtua yang mengerti dan menerima dirinya sendiri dengan baik. Mereka memiliki harga diri yang sehat sehingga mampu memperlakukan anak-anaknya dengan penuh respek. Akibatnya mereka juga menerima respek dari anak-anaknya. Ketika anaknya berbuat di luar pengharapannya mereka tetap respek pada pilihan anaknya. Kemudian akan mencari tahu dulu masalahnya dan membantu anak untuk berubah.

Orangtua air mencintai dirinya sendiri sehingga ia mampu memberikan cinta pada anak-anaknya. Akibatnya anak-anaknya tumbuh dengan penuh kasih sayang dan merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Anak-anaknya tumbuh dengan percaya diri dan harga diri yang sehat.

Orangtua air menjalani kehidupan bersama anak-anaknya dengan penuh kegembiraan dalam suasana yang saling menghargai. Mereka saling mendukung perubahan diri masing-masing. Mereka sangat toleran dan sabar dalam menyikapi berbagai hal. Orangtua air dan anaknya adalah pelaku tata tertib yang patuh namun fleksibel.

Bagaimana dengan kita sendiri? Termasuk dalam kategori manakah kita dalam mendidik anak? Orangtua batu atau Orangtua air? Andalah yang bisa secara jujur menjawabnya sendiri.

Semoga bermanfaat.

Kamis, 23 Februari 2012

Nasihat Kuno tapi TETAP Update di Jaman Sekarang.

Pengalaman riil dari ayah 6 buah hati, 3 putra dan 3 putri.


Pengalaman adalah guru yang paling baik,demikianlah salah satu peribahasa yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari.
Perkenankan saya sharing pengalaman memotivasi anak untuk mencapai impian.


Ajaran dari orang tua kami sendiri sangat mempengaruhi cara kami untuk mendidik anak anak kami.Orang tua kami sering mengingatkan : "Kalian harus belajar yang rajin menuntut ilmu, karena dengan ilmu apa saja akan kalian dapat raih, Bapak tidak mewariskan harta, tapi ilmu."


Demikian yang selalu orang tua kami katakan kepada anak-anaknya, yang akhirnya kami pun sekarang sebagai orang tua menduplikasi apa yang oleh orang tua kami ajarkan kepada anak-anak kami. Alhamdulillah segala puji bagi Tuhan apa yang kami duplikasi dari orangtua kami, telah terlihat hasilnya, khususnya untuk pendidikan anak-anak kami. Empat dari enam anak-anak kami diterima kuliah di Perguruan Tinggi Negri, satu telah lulus dari ITB, satu lagi telah lulus dari UNPAD, dua masih kuliah di UNPAD. Satu masih di SMA kelas 2, satu lagi masih kelas 6 SD. Kami dikaruniai enam buah hati, tiga laki tiga perempuan. Anak pertama kembar (satu laki satu permpuan).


Ada beberapa tambahan motivasi yang selalu kami sampaikan kepada anak-anak kami : "Kalian jika sudah sampai kuliah, targetnya harus masuk Perguruan Tinggi negri. Karena anak Bapak 6 (enam), biaya kuliah sangat mahal jika kuliah di Perguruan Tinggi Swasta". Demikian motivasi kami kepada anak-anak agar dapat kuliah di PTN. Keinginan kami dikabulkan oleh Tuhan, saat ini tinggal 2 anak lagi yang kami targetkan masuk ke Perguruan Tinggi Negri.


Memotivasi kedua anak yang terakhir untuk diterima di Perguruan Tinggi Negri, kami lakukan dengan memintanya meneladan sikap kakak-kakaknya. “Kalian harus bisa ikut kakak untuk kuliah di Perguruan Tinggi Negri. Tidak ada yang sulit jika kalian mau", Demikian kata-kata kami kepada yang kecil.


Motivasi dan nasihat sangat penting bagi anak-anak jaman sekarang, situasi jaman sudah sangat berbeda dengan kami sewaktu masih menjadi pelajar. Dimana keadaan ekonomi saat itu sangat sulit sekali. Alih alih untuk melanjutkan sekolah, untuk keperluan makan saja orang tua sudah sangat berat. Perlu diketahui saat remaja, kondisi kami saat itu adalah saat saat pasca G 30 S/ PKI.


Untuk mendapatkan beras harus antri, uang sulit, berangkat ke sekolah tidak ada ongkos dan tidak uang jajan. Berbeda dengan anak-anak zaman sekarang yang relatif kecukupan untuk keperluan pokoknya, kecukupan untuk biaya sekolah. Jika tidak dimotivasi dengan cara yang tepat, bisa-bisa gagal dalam studi kendati biaya berlimpah.


Ada lagi satu motivasi yang sangat penting untuk disampaikan kepada anak, "Kalian akan dapatkan apapun yang kalian inginkan jika dimulai dengan keyakinan dan usaha yang sungguh-sungguh, dibantu dengan doa kepada Tuhan. Apapun yang kalian pikirkan (cita-citakan) akan terwujud.” Demikian motivasi kami kepada anak-anak, semoga kiranya keberhasilan orang tua dalam memotivasi anak beresonansi dengan kehendak Tuhan untuk menjadikan manusia  wakilnya dimuka bumi untuk membawa kebaikan kepada seluruh alam.


Jadi pada intinya kami menekankan kepada anak-anak untuk menuntut ilmu sebaik-baiknya, sebab dengan berilmu, apapun bisa kita raih. "Berilmu satu tingkat diatas bersyukur. Bersyukur satu tingkat diatas bersabar. Terhadap kekurangan kita bersabar, terhadap kelebihan kita bersyukur. Untuk dapat bersyukur dan bersabar dengan baik diperlukan ilmu". Demikian kata bijak dari Farid Poniman, CEO STIFIn.


Jadi ilmu memang segala-galanya untuk mencapai apa yang kita ingin raih. "Camkanlah wahai anak-anakku"