Jumat, 15 Mei 2015

Apakah Harus Menunggu Kematian untuk Berubah

Crita ini nyata.. dari tetangga yg terlambat sholehah
”Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus”

Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua, membuatku membenci suamiku sendiri.

Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku. Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua keinginanku.

Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja, tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.

Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat untuk pergi.

Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan bertanya.

“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphoneku kembali berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah membentak. “Apalagi??”

“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku cepat , kuatir aku menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.

Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.

Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami. Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti, airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.

Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.

Saat pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka kehilangan dirinya.

Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi, aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.

Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali. Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja, sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya dengan kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.

Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak. Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya. Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali. Semuanya selalu diatur oleh dia.

Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi suratnya untukku.

Istriku Liliana tersayang,

Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri. Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.

Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya. Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka, ya sayang.

Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh yang lebih baik dariku.

Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya. Oke, Buddy!.

Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.

Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya. Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap membanjiri kami dengan cinta.

Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku saat suamiku pergi.

Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”

Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu, cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”

Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”

Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya yang begitu tulus.

Selasa, 28 April 2015

M.A.R.A.H itu N.G.A.M.U.K

Ketika kata benci untuk seseorang sudah keluar dari mulutku, itu akan berlaku selamanya hingga kapanpun... Itu sisi burukku..

Kamis, 05 Maret 2015

SAKIT ITU ADALAH KENIKMATAN

"Disekolah saya diajarkan sebuah pelajaran dan kemudian diberikan ujian, dalam kehidupan saya diberikan ujian yang mengajarkan saya sebuah pelajaran

"pesan untuk anakku jadikan semua yg Engkau lihat dan dengarkan sbg pelajaran agar dpt melangkah dengan baik menuju kehidupan yg diberkahi Allah"

Dalam banyak hal saya terbiasa membuat rencana dari berbagai tujuan hidup yang ingin dicapai. Namun tidak selamanya rencana yang dibuat berjalan mulus. Bahkan tidak jarang harapan yang diinginkan menjadi pupus sebelum bisa terwujud. Sebagai manusia, wajar jika kemudian saya bersedih karena apa yang saya inginkan belum atau tidak terpenuhi.
Namun kesedihan tidak sampai membuat saya terpuruk. Kekecewaan tidak membuat saya sampai larut dalam kesedihan mendalam. Saya meyakini sebuah prinsip yang saya kutip dari kitab suci Al Qur’an:
“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)
Sebagai manusia, tugas kita adalah berusaha dan berdoa. Selebihnya biarlah Tuhan yang menentukan yang terbaik untuk kita. Kadang hawa nafsu menutup jalan pikiran dan hati kita sehingga menumbuhkan ketidaksukaan saat apa yang kita inginkan belum atau tidak menjadi kenyataan. Bahkan jika keimanan kita sedang dalam posisi di bawah (rendah), bisa jadi kekecewaan tersebut berujung  kepada penyalahan akan takdir Tuhan. Padahal yakinlah ada skenario Tuhan yang jauh lebih indah yang akan disiapkan untuk kita nantinya.
Ketika memegang prinsip ini, kekecewaan hanya bersifat sementara. Selebihnya berusaha ikhlas tentang apapun yang ditakdirkan Tuhan kepada kita. Sembari dengan terus tetap berusaha dan berdoa agar selalu diberikan bimbingan Tuhan dalam mencapai segala cita yang diinginkan, dan diberikan keikhlasan hati jika harapan tersebut mungkin belum terwujud atau bahkan mungkin tidak terwujud sekalipun. Karena pasti di dalamnya ada hikmah yang luar biasa yang ingin Alloh SWT berikan kepada kita makhluk-Nya yang lemah ini.
Saya tetap bersyukur ketika dulu Allah “memberikan saya sebuah kenikmatan berupa kesehatan (klik--»» http://youtu.be/tuARezmhBh ««-- yg ketika itu saya semakin dekat dengan Nya "Allah SWT" dan dengan kenikmatan itu ujian juga diberikan kepada keluarga yg bagi saya buruk untuk anak-anak saya kedepan, tp smoga saja itu hanya kekhawatiran saya sebagai seorang ayah. Karena insya Allah Yg Maha Kuasa menjadikannya lebih baik bagi icaticiticut (tetap berusaha dan berdoa) 
Takdir Allah memang penuh rahasia dan tak terduga. Semua indah pada waktunya. Dan kita patut selalu bersyukur karenanya*

Hindari Mengucapkan Kata-Kata Ini Kepada Anak Ketika Marah

  • Orang tua sering kali hilang kesabaran ketika menghadapi kenakalan anak, seperti rewel, berkelahi, mencuri, tidak patuh, dan sebagainya. Berbagai macam cara mulai dari bentakan, ancaman, hingga pemukulan secara fisik kerap dilakukan oleh orang tua supaya dapat meredam kenakalan mereka. Pertanyaannya, menurut Anda apakah cara-cara tersebut efektif? Mungkin ada sebagian dari Anda yang setuju dan sebagian lain mungkin menjawab tidak setuju.
    Menjadi orang tua sangat dibutuhkan kesabaran ekstra, adalah memang tanggung jawab Anda untuk bisa mengendalikan mereka, akan tetapi bukan dengan cara kekerasan fisik dan kata-kata kasar. Anak-anak butuh waktu untuk bisa memahami segala sesuatu, Anda pun dulu waktu seusia mereka pasti juga melakukan kenakalan yang sama. Lepas dari betapa suram masa kecil Anda dulu atau betapa tegas orang tua Anda telah mendidik Anda selama ini, ketahuilah bahwa anak-anak Anda saat ini adalah pribadi yang berbeda. Anda boleh menerapkan pola pengasuhan yang sama seperti yang Anda terima dari orang tua Anda dulu atau Anda ingin menerapkan pola pengasuhan yang baru, itu semua terserah kepada Anda.
    Oleh karena itu, apapun alasannya, bila Anda terpaksa harus marah untuk menunjukkan ketegasan Anda kepada anak-anak Anda, sebisa mungkin kendalikan emosi Anda dan hindarilah mengucapkan kata-kata berikut ini kepada mereka:
  • 1. "Dasar berengsek!"

    Kalimat kasar yang sering diucapkan oleh orang dewasa yang sedang marah ini tidak patut ditujukan kepada seorang anak. Ketika seorang anak menerima kalimat ini dari orang tuanya, maka hal itu akan tertanam dalam benak mereka dan mereka akan belajar untuk semakin tidak menghormati Anda. Lebih parahnya lagi mereka akan meniru dan mengucapkan hal yang sama kepada orang lain.
  • 2. "Ini semua salahmu!"

    Anak-anak sangat membutuhkan arahan dan bimbingan dari kedua orang tuanya. Ketika mereka berbuat kesalahan itu adalah hal yang wajar, sebagai orang tuanya Anda tidak boleh menghancurkan rasa ingin tahunya. Anda juga tidak boleh menghancurkan rasa percaya dirinya dengan mengatakan, "Ini semua karena salahmu atau semua ini terjadi gara-gara kamu."
  • 3. "Dasar goblok!"

    Seorang anak yang sering mendapatkan teguran semacam ini dari orang tuanya akan menjadi minder dan tidak memiliki percaya diri yang baik. Dia akan merasa bahwa dirinya memang tidak becus dalam mengerjakan sesuatu. Bila tetap diteruskan, tanpa Anda sadari Anda sendirilah yang telah menghancurkan masa depannya.
  • 4. "Dasar anak setan!"

    Emosi orang dewasa memang terkadang bisa tak terkontrol, berbagai macam kata-kata kasar, makian dan umpatan sangat mudah keluar dari mulut Anda. Ketika Anda sedang marah kepada anak Anda dan betul-betul jengkel karena tingkah lakunya yang tidak bisa diatur jangan pernah mengatakan kepadanya bahwa dia anak setan. Bila Anda mengharapkan rasa hormat darinya dan ingin supaya anak Anda mudah untuk diatur, maka lebih baik Anda melakukan introspeksi diri. Terkadang anak-anak yang berperilaku demikian sebenarnya hanya menunjukkan rasa protes kepada Anda.
  • 5. "Dasar kurang ajar!"

    Kalimat ini hanya pantas ditujukan kepada seseorang yang telah melakukan perbuatan jahat seperti mencuri, membunuh, atau memperkosa, bukan untuk anak-anak yang sesungguhnya belum mampu memahami apa yang telah dia lakukan itu benar atau salah.
  • 6. "Kami tidak pernah mengharapkanmu."

    Bila Anda sangat mengasihi anak-anak Anda, semarah apapun Anda jangan pernah sekalipun mengucapkan kalimat ini kepada mereka. Kalimat ini bagaikan sebuah kutukan kepada seorang anak. Sekali saja kalimat ini keluar dari mulut Anda, maka Anda tidak akan pernah bisa menyembuhkan luka di hatinya sampai kapanpun dan Anda juga tidak akan pernah bisa mendapatkan rasa hormat darinya.
    Anda marah dan jengkel menghadapi perilaku nakal anak adalah hal yang wajar, Anda bukanlah seorang malaikat, Anda hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari berbagai macam kesalahan. Tetapi sebagai orang tua, Anda dituntut untuk mampu mengendalikan emosi Anda. Kedewasaan Anda dalam hal ini sedang diuji. Cara Anda mendidik mereka menentukan kualitas Anda sebagai orang tuanya, dan kesalahan Anda dalam mendidik merekalah yang justru dapat menghancurkan masa depannya.

Senin, 02 Maret 2015

Fungsi Pasta Gigi yang Tak Anda Duga

1. Membersihkan CD atau DVD dari goresan

2. Menghilangkan bekas gelas di furnitur kayu

3. Menghilangkan noda di kain  

4. Menghilangkan bekas spidol permanen dari bahan kayu

5. Menghilangkan permen karet dari rambut

6. Mengilapkan peralatan perak

7. Menghilangkan jerawat lebih cepat

8. Menghilangkan krayon dari dinding

Minggu, 01 Maret 2015

SEMANGAT MARET

saya tidak mengatakan saya terdampar ketika terjatuh, karena sebenarnya saya masih bisa berdiri dengan kedua kaki saya, dan bekerja dengan tangan saya.
Terus berlari dan bekerja.
Dan serahkan semua hasilnya kepada Tuhan.
Hanya Tuhan yang bisa menentukan . #semangaTmaret

Sabtu, 14 Februari 2015

Coklat Bangsat

GARA-gara cokelat, para gadis terpikat. 
Akhirnya obral aurat, padahal cokelat banyak dijual di Alfamart.
Apa karena sudah terlampau miskin sangat. 
Hingga hanya untuk sebatang cokelat, 
rela diajak bermesum di sembarang tempat. 
Dasar bejat!
# Pesan moral khusus untuk para "Gadis" 
yang sudah Janda maupun yang tidak Gadis, 
Lanjoooeett.... 

Rabu, 11 Februari 2015

Ayeme Ati Ora Soko Akehe, Nanging Soko Barokahe

Sugeng injang...

Rejeki iku ora biso ditiru, senajan podho lakumu, senajan podho dodolanmu, senajan podho kerjananmu, hasil sing ditompo bakalan berdo, iso bedo ning akehe bondho, biso ugo ono ning Rosso lan ayeme ati yo iku sing jenenge bahagia. Kabeh iku seko tresnane Gusti Kang Maha Kuwoso, Sopo temen bakal mulyo. Dudu akehe kang dadi ukurane ananging berkahe sing gawe cukup lan ngikutin sekabehane.

Wis ginaris nyoto ning takdir menungso yen opo sing urip kwi wes disangoni soko sing Kuwoso, dalan urip lan pangane wes cemepak cedak koyo angin sing diserot mbendinane, nanging kadang menungso sulap motone lan peteng atine, sing adoh sko awake katon padang cemlorot ngawe-ngawe nanging sing cerak ning ngarepe ugo dadi tanggung jawabe di sio-sio koyo ura nduwe guno.

Rejeki iku wes cemepak sko Gusti ora bakal kurang anane kanggo nyukupi butuhe manungso saka lair tekane pati, nanging yen nganggo nuruti karep menungso sing ora ono watese, rasane kabeh cupet, ning pikirane ruwet, lan atine marai bundet.

Welinge wong tua ndisek opo sing ono lakonono lan opo sing durung ono ojo di arep-arep yen wes tekan wancine bakal ono, semelehke atimu ademke pikiranmu yen wes dadi duwekmu mbesok bakal tinemu.

Lan yen dudu jatahmu opo maneh kok rebut soko wong liyo nganggo coro sing olo, yo titeni wae iku kabeh mung bakal gawe uripmu loro rekoso lan angkoro murko sak jeroning kaluwargo, kabeh iku bakal sirno balik dadi sakmestine ning takdire Gusti Kang Maha Kuwoso.


Yen umpomo ayem iku mung biso di tuku karo sopo sing nduweni akehe bondho, ndhano rekoso lan melase
dadi wong ora nduwe, untunge ayem tentrem wiluyeng iku sopo wonge sing gelem ngleremke atine ing bab kadonyan, gelem ngerem kencenge kekarepan, seneng tetulung marang liyan lan pasrahke uripe marang Pangeran.

Sugeng makaryo...
Suwun.

Sabtu, 07 Februari 2015

Ayah Juga Manusia

Ayah adalah LAKI-LAKI  ::

LAKI-LAKI adalah ciptaan TUHAN yang indah. Dia banyak mengalah dari umur yang sangat muda.

Dia korbankan kehidupan masa mudanya hanya untuk  anak-anaknya dengan bekerja sampai malam hari tanpa mengeluh.

Dia ingin bina masa depan  dengan membuat pinjaman dari bank dan membayar cicilan sepanjang hayatnya.

Dia telah bersusah payah tapi masih dimarahi ibu, isteri dan boss-nya.

Kehidupan dia berakhir hanya untuk mengalah demi kebahagiaan orang lain.

Kalau ke luar rumah, orang bilang dia maen

Kalau tinggal di rumah, orang bilang dia malas.




Kalau dia marahi anak-anak, orang bilang dia galak.

Kalau dia tak marah, orang bilang dia laki-laki yang tak bertanggung-jawab.

Kalau dia tak bolehkan isterinya bekerja, orang bilang dia tipe suami pengekang istri.

Kalau dia bolehkan isterinya bekerja, orang bilang dia makan gaji isteri.

Kalau dia dengar apa kata ibunya, orang bilang dia anak mama. 

Kalau dia dengar kata istri, orang bilang dia DKI alias Di bawah Ketiak Istri.

Hargailah setiap laki-laki dalam hidup Anda. Anda tidak akan pernah tahu apa perngorbanan yang sudah dilakukannya untuk hidup Anda.

Artikel ini boleh di-share ke semua laki-laki agar mereka tersenyum & kepada semua wanita, supaya mereka sadar bahwa laki-laki

Minggu, 01 Februari 2015

Saat itu Engkau belum sempat mengajariku

icaticiticut-- Ketika Engkau membuatku bahagia, senang, ceria, tertawa bersama... Saat itu Engkau belum sempat mengajariku cara bersedih, melamun, merenung, menangis bersama...

Tahukah engkau Nak, bahwa ayah saat ini berada di titik terendah dalam hidup ayah. Yaitu ketika jauh darimu. Hanya doa yg dapat ayah panjatkan kepada Allah SWT, Dimanapun kapanpun engkau slalu dalam lindungan-Nya.
Ayah sangat berdosa kepadamu, terlebih kepada yang memberi amanah yaitu Allah SWT. Kelak ayah yakin kalian akan ingat dimana kita tertawa gembira bersama.